Cak Ucup : Jangan Kucilkan Mantan Napi
Secara psikologis mantan narapidana (napi) harus segera mendapat tempat di masyarakat dan jangan dikucilkan. Sebab betapa kejamnya kehidupan di dalam penjara namun setelah bebas kemudian tidak mendapat simpati dan dukungan yang dibutuhkan agar mentalnya kembali pulih maka bisa menyebabkan frustasi dan mendorong mantan napi melakukan tindakan asusila kembali.
Begitu opini Drs.H. Yusuf Husni, Apt (Cak Ucup), calon Walikota Surabaya dari Partai Golkar saat tampil dalam bedah buku “Napi 973 Hari” bersama Roy Marten, Prof Sam Abede Pareno dan Sabrot D Malioboro di Pasar Buku Indonesia Cerdas, Kapas Krampung Plaza, Jumat (26/02) siang. Buku karya Baharmi tersebut merupakan kisah nyata dari pengalamannya sebagai penghuni Rutan Medaeng.
Berbicara tentang Napi, Cak Ucup menyatakan, setelah seseorang bebas sebenarnya dia mempunyai hak yang sama dengan warga masyarakat lainnya. Oleh sebab itu keluarga dan lingkungannya harus memberi dukungan agar semangat hidupnya tumbuh. Jika menganggap mantan napi sebagai penjahat maka bisa menjerumuskannya kembali dalam tindakan asusila atau kriminal.
Berdasar pengalaman mantan napi yang bisa segera survive karena mendapat dorongan dari keluarga. Contohnya Roy Marten dan Baharmi, keduanya bisa mengembangkan aktivitas yang bermakna. Oleh sebab itu masyarakat hendaknya memahami posisi orang yang keluar dari penjara merupakan korban sehingga perlu menggunakan kacamata jernih dalam menilai kehadirannya.
Tentang penyimpangan yang berlangsung di dalam penjara, menurut Ketua Kosgoro 1957 tersebut, itu fakta yang perlu segera diatasi secara serius terutama masalah aparat. Lapas merupakan tempat untuk menyadarkan orang-orang yang perilaku salah menjadi baik. “Tapi tidak mungkin kondisi penjara berubah jika mental aparatnya seperti sekarang,” tandas Cak Ucup, Buku ini layak dikoleksi sebagai kajian berharga dalam memahami penjara masa kini


