Desakan Angkatan Muda Pembaharuan Partai Golkar (AMPG) Jawa Timur Terhadap jajaran kepengurusan DPD Partai Golkar terkait keseriusan memenangkan pemilukada tersisa di 10 kabupaten/kota di Jawa Timur rupanya tidak mendapat respon Ketua Tim Pemenangan Pilkada Partai Golkar Jatim Gesang Budiarso. Bahkan, ia tidak memberikan reaksi apapun mengenai desakan salah satu sayap Partai Golkar untuk melakukan evaluasi pilkada yang sudah berjalan beberapa waktu lalu. Beberapa kali nomor telepon seluler milik Gesang Budiarso saat dihubungi ada nada dering, namun tidak juga memberikan jawaban. Bahkan SMS yang dikirim untuk meminta konfirmasi terkait desakan Ketua AMPG Jatim, Yusuf Husni tidak juga ada jawaban.
Sebelumnya Yusuf Husni memprotes jajaran pengurus Partai Golkar Jatim terkait kekalahan pilkada di lima kabupaten/kota (Surabaya, Trenggalek, Mojokerto, Gresik dan Blitar). Bahkan politisi yang juga mantan anggota DPRD Jatim ini menilai pengurus Golkar Jatim kurang serius mengawal pelaksanaan pilkada di Jawa Timur. Karena itu Cak Ucup, (sapaan akrab Yusuf Husni–red) mengaku sangat penting melakukan konsolidasi kaderisasi untuk mengawal kebijakan Partai Golkar dalam proses pemilukada yang bakal digelar di 10 kabupaten/kota mendatang. (Memorandum-Surabaya, 27 Juni 2010)
Pelaksanaan pilkada tinggal 10 kabupaten/kota se Jawa Timur membuat Angkatan Muda Pembaharuan Golkar (AMPG) Jawa timur mendesak agar DPD Golkar Jatim dibawah kendali Martono dan Sekjen Golkar Jatim Gesang Budiarso serius memenangkan pilkada yang tersisa. Apalagi saat ini Keputusan Mahkamah Kontitusi (MK) ada pilkada di Jawa Timur yang dilakukan perhitungan ulang maupun pencoblosan ulang.
Protes ini disampaikan Ketua AMPG Jatim, Yusuf Husni terkait kekalahan pilkada di lima kabupaten/kota. Kekalahan Partai Golkar ada di Kota Surabaya, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Gresik, Kabupaten Trenggalek dan Kota Blitar. ”Kekalahan ini, karena mesin partai yang ada dibawah tidak jalan. Ini menjadi peran penting agar ke depan pilkada menang di delapan kabupaten/kota,” kata Yusuf Husni saat membuka kantor AMPG Jatim di gedung Partai Golkar Jl. A. Yani, Jum’at (25/6).
Kabupaten/kota yang belum melakukan pilkada antara lain, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Banyuwangi, Kota Pasuruan, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Malang, Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Lumajang. (Memorandum-Surabaya, 26 Juni 2010)
Secara psikologis mantan narapidana (napi) harus segera mendapat tempat di masyarakat dan jangan dikucilkan. Sebab betapa kejamnya kehidupan di dalam penjara namun setelah bebas kemudian tidak mendapat simpati dan dukungan yang dibutuhkan agar mentalnya kembali pulih maka bisa menyebabkan frustasi dan mendorong mantan napi melakukan tindakan asusila kembali.
Begitu opini Drs.H. Yusuf Husni, Apt (Cak Ucup), calon Walikota Surabaya dari Partai Golkar saat tampil dalam bedah buku “Napi 973 Hari” bersama Roy Marten, Prof Sam Abede Pareno dan Sabrot D Malioboro di Pasar Buku Indonesia Cerdas, Kapas Krampung Plaza, Jumat (26/02) siang. Buku karya Baharmi tersebut merupakan kisah nyata dari pengalamannya sebagai penghuni Rutan Medaeng.
Berbicara tentang Napi, Cak Ucup menyatakan, setelah seseorang bebas sebenarnya dia mempunyai hak yang sama dengan warga masyarakat lainnya. Oleh sebab itu keluarga dan lingkungannya harus memberi dukungan agar semangat hidupnya tumbuh. Jika menganggap mantan napi sebagai penjahat maka bisa menjerumuskannya kembali dalam tindakan asusila atau kriminal.
Berdasar pengalaman mantan napi yang bisa segera survive karena mendapat dorongan dari keluarga. Contohnya Roy Marten dan Baharmi, keduanya bisa mengembangkan aktivitas yang bermakna. Oleh sebab itu masyarakat hendaknya memahami posisi orang yang keluar dari penjara merupakan korban sehingga perlu menggunakan kacamata jernih dalam menilai kehadirannya.
Tentang penyimpangan yang berlangsung di dalam penjara, menurut Ketua Kosgoro 1957 tersebut, itu fakta yang perlu segera diatasi secara serius terutama masalah aparat. Lapas merupakan tempat untuk menyadarkan orang-orang yang perilaku salah menjadi baik. “Tapi tidak mungkin kondisi penjara berubah jika mental aparatnya seperti sekarang,” tandas Cak Ucup, Buku ini layak dikoleksi sebagai kajian berharga dalam memahami penjara masa kini
Dalam derap pembangunan yang memanjakan kapitalistik membuat Surabaya kian kehilangan jati diri. Karakter budaya Arek Suroboyo yang menjunjung solidaritas, guyub dan egaliter semakin hilang .
lanjut…
Surabaya – Keberadaan seksi-seksi di Kelurahan ternyata hanya stempel belaka. Personil dan tupoksi ada namun sayangnya tidak didukung dengan anggaran memadai. Fakta itulah yang terungkap saat calon walikota Surabaya Drs H Yusuf Husni Apt (Cak Ucup) bertandang ke kantor Kelurahan Pucang Sewu.
lanjut…
Cak Ucup terus melakukan melakukan gerakan, mengembangkan kerja-kerja politik, menyapa kelompok masyarakat pinggiran seraya melontarkan statement keras terhadap kondisi Surabaya yang tercatat pada urutan ke-10 kota tertinggal di Provinsi Jawa Timur. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang visioner dengan menata kebijakan yang berani agar kesejahteraan warganya meningkat.
lanjut…
SURABAYA – Yusuf Husni terus memprotes keputusan DPP Partai Golkar yang merekomendasi Adies Kadir sebagai bakal calon wakil wali kota. Ketua Kosgoro 1957 (salah satu sayap Golkar) Jatim itu menginstruksi agar seluruh bendera Kosgoro se-Jatim dikibarkan setengah tiang.
lanjut…
SURABAYA – Keputusan DPP Partai Golkar merekomendasi Adies Kadir menjadi bakal calon wakil wali kota (cawawali) menuai protes dari Yusuf Husni, wakil ketua DPD Golkar Jatim yang juga maju pilwali. Dia menganggap rekomendasi itu tergesa-gesa dan tidak memperhitungkan kondisi riil Surabaya. Tak tanggung-tanggung, Yusuf melayangkan surat protes langsung kepada Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie.
lanjut…
Surabaya – Kendati disibukkan dengan persiapan maju sebagai walikota, namun calon walikota Surabaya Drs H Yusuf Husni (Cak Ucup) menyempatkan waktunya untuk belajar membatik di kampung wisata batik Kecamatan Bubutan, Sabtu (6/2/2010).
lanjut…
Surabaya – Pengabdian dan pelayanan yang telah diberikan para pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah selayaknya diberi penghargaan dan perhatian pemerintah kota Surabaya. Sebab, diakui atau tidak, para pensiunan itu sebenarnya mempunyai jasa yang besar terhadap pemerintah dan masyarakat.
lanjut…